Hi! I'm Elvira

Penyebab Splicing Gagal - PERWIRA LEARNING CENTER

PENYEBAB GAGALNYA SPLICING ITU APA YA KIRA-KIRA?

PERWIRA LEARNING CENTER

Gambar 1.1 Splicing

1. Latar Belakang

    Dalam jaringan fiber optik, splicing merupakan proses penyambungan dua serat optik agar sinyal cahaya dapat diteruskan secara optimal. Kualitas splicing sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya redaman (loss) dan kestabilan koneksi jaringan. Splicing yang tidak dilakukan dengan benar dapat menyebabkan gangguan layanan, penurunan kualitas jaringan, hingga putusnya koneksi.

    Artikel ini disusun untuk menjelaskan penyebab splicing gagal berdasarkan materi dan praktik yang dipelajari dalam kegiatan pembelajaran jaringan fiber optik. Diharapkan artikel ini dapat membantu memahami faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan splicing.

2. Alat dan Bahan

a. Perangkat Lunak

1). Sistem Operasi Windows : sebagai sistem utama untuk menjalankan aplikasi.
2). Browser : untuk mengakses website sebagai sumber informasi.
3). Platfrom blogger : media dokumentasi artikel.

b. Perangkat Keras

1). Fusion Splicer : menyambungkan dua ujung kabel fiber optik secara permanen dengan metode peleburan menggunakan panas listrik (arc).

Gambar 1.2 Fusion Splicer

2). Fiber Optic Cleaver : memotong ujung inti kabel fiber optik dengan sangat presisi dan rata sebelum dilakukan proses penyambungan.

Gambar 1.3 Fiber Optic Cleaver

3). Stripper fiber optik : mengupas lapisan pelindung kabel fiber optik (jaket dan coating) tanpa merusak inti serat (core).

Gambar 1.4 Stripper fiber optik

4). Alkohol isopropil dan tisu bebas serat : membersihkan inti serat fiber optik dari debu, minyak, atau kotoran setelah proses pengupasan.

Gambar 1.5 Alkohol isopropil dan tisu bebas serat

5). Kabel fiber optik : media transmisi untuk mengirimkan data dalam bentuk cahaya.

Gambar 1.6  Kabel fiber optik

6). Optical Power Meter (OPM) dan Light Source (jika ada) : mengukur daya sinyal cahaya yang dikirim dan diterima pada kabel fiber optik. Digunakan untuk mengecek kualitas jaringan, mengetahui redaman, dan memastikan hasil instalasi atau splicing berjalan dengan baik.

Gambar 1.7 Optical Power Meter (OPM)

7). Visual Fault Locator : alat uji cahaya pada kabel FO.

Gambar 1.8 Visual Fault Locator

8). Pemanas sleeve : Memanaskan proteksi sambungan agar menyatu sempurna.

9). Sleeve : Melindungi sambungan serat optic.



10). Cutter Fiber Optik :  Memotong serat optik dengan presisi.

Catatan : Penjelasan alat dan praktik hanya bersifat teori, tanpa praktik langsung.

3. Pembahasan

a. Konsep Splicing Fiber Optik

    Splicing adalah proses penyambungan dua ujung serat optik dengan tujuan menyatukan inti (core) fiber agar cahaya dapat merambat dengan redaman sekecil mungkin. Splicing umumnya dilakukan menggunakan metode fusion splicing yang memanfaatkan panas dari busur listrik untuk melelehkan dan menyatukan kedua ujung fiber.

b. Penyebab Splicing Gagal

Beberapa penyebab umum splicing gagal antara lain:

1). Kebersihan Fiber Optik Kurang Baik
   Debu, minyak, atau kotoran pada ujung fiber dapat menghambat proses penyambungan dan meningkatkan nilai loss.
2). Hasil Cleaving Tidak Presisi
   Pemotongan fiber yang tidak rata atau miring menyebabkan inti fiber tidak sejajar saat disambungkan.
3). Pengaturan Mesin Fusion Splicer Tidak Sesuai
   Kesalahan dalam pengaturan jenis fiber, arc time, dan arc power dapat mengakibatkan hasil splicing tidak optimal.
4). Elektroda Mesin Kotor atau Aus
   Elektroda yang tidak terawat akan menghasilkan busur listrik yang tidak stabil.
5). Kondisi Fiber Sudah Rusak
   Fiber yang retak, tertekuk, akan sulit menghasilkan splicing yang baik.
6). Perbedaan Jenis Fiber Optik
   Penyambungan fiber dengan jenis berbeda dapat menyebabkan ketidaksesuaian inti dan redaman tinggi.

c. Praktik yang Dilakukan

    Praktik yang dilakukan meliputi pembersihan fiber optik, proses cleaving, pengaturan mesin fusion splicer, serta penyambungan fiber. Setelah proses splicing, dilakukan pengecekan hasil splicing menggunakan alat ukur untuk memastikan nilai redaman sesuai standar. Praktik lebih rinci bisa di cek di artikel berikutnya.

d. Hasil Pembelajaran

    Dari kegiatan pembelajaran ini dapat disimpulkan bahwa ketelitian, kebersihan, serta pengaturan alat yang tepat sangat memengaruhi keberhasilan splicing. Splicing yang baik akan menghasilkan nilai loss kecil dan koneksi jaringan yang stabil.

e. Kendala dan Solusi

    Kendala yang sering ditemui adalah hasil splicing dengan loss tinggi. Solusi yang dilakukan yaitu membersihkan ulang fiber, mengganti hasil cleaving, serta melakukan pengecekan dan kalibrasi elektroda mesin splicer.

Daftar Pustaka

GBS Indonesia. (2025). Panduan splicing fiber optik dan alat yang digunakan. Diakses dari http://gbs-indonesia.co.id/news/splicing-fiber-optik-panduan-alat
GBS Indonesia. (2025). Panduan lengkap fiber optic splicing untuk koneksi stabil dan minim loss. Diakses dari http://gbs-indonesia.co.id/news/fiber-optic-splicing-panduan-lengkap
SMK Bhinneka Karya Simo. (2025). Praktikum splicing fiber optik. Diakses dari http://smk-bk-simo.sch.id/praktikum-splicing-fiber-optik/
Fibconet. (2025). Apa itu fiber fusion splicer. Diakses dari http://fibconet.com/id/what-is-fiber-fusion-splicer/